Senin, 18 Juli 2016

Hanya Satu Tanyaku, Bisakah Kita Bersama Lagi?

hipwee-abrazos

“Sarah! Tunggu aku!” Teriak Rendi memanggil Sarah yang sudah lari meninggalkan Rendi ingin pergi ke sekolah karena mereka sudah terlambat. “Aduuh, Rendi jalan yang cepet dong! Lelet banget kayak putri ayu!”Balas Sarah setelah Rendi tadi sudah lari tersengal-sengal mengejar Sarah yang larinya sudah seperti jet.

Setelah mereka berlari-lari pergi ke sekolah, tiba mereka sampai ke gerbang sekolah. Tetapi, mungkin sial lagi mengelilingi mereka karena gerbang sekolah sudah di tutup dari 5 menit yang lalu. “Aakhh! Harusnya tadi aku gak usah berhenti nungguin kamu, kan jadi telat gara-gara kamu sihh,putrid ayu!”sebal Sarah melihat Rendi, sambil menyerngitkan alisnya Rendi pun membalasnya dengan pukulan karena kesal melihat tingkah Sarah, “Aduuhh, Rendi! Kan kamu yang salah kok malah aku yang di pukul sih?!”kata Sarah sambil membalah pukul lagi ke Rendi. “Aduhh, Sarah jadi cewe lembut dikit kenapa? Aku tadi udah lari kencang tapi kamunya aja yang larinya udah kayak jet!”seru Rendi. “Biarin yang penting gak kayak kamu!, putri ayu!”balas Sarah.

Akhirnya karena kami berdua tidak bisa masuk sekolah, akhirnya kami berdua memutuskan untuk bolos sekolah dan jalan-jalan. Ya, aku sama Rendi sahabatan udah dari kecil sampai sekarang kami SMA pun satu sekolah dan sekelas pula. Akhirnya karena aku yang member ide untuk bolos saja jadi aku yang menentukan mau pergi kemana. Dan aku memilih untuk pergi ke tempat kami dulu kecil pertama kali bertemu.

Lapangan lari. Iya, lapangan lari. Kenapa? Ya, karena memang kita bertemu disini. Awalnya dulu aku msih umur 6 tahun aku di ajak oleh kedua orang tua ku lari di lapangan lari, awalnya aku menolak tetapi karena di paksa oleh Mama ku harus ikut jadi aku ikut deh. Mungkin kalau pada saat itu aku ternyata tidak jadi ikut, ceritanya mungkin gak akan seperti ini dan aku gak akan bertemu dengannya.

Akhirnya dengan malasnya aku pergi ke lapangan lari deket rumahku. Aku di suruh lari malah berjalan, disuruh pemanasan malah goyang-goyangin tangan. Dengan jengkelnya Mama ku memarahiku “Haduuh, kamu ini di suruh sehat malah males-malesan. Yang bener kalau olahraga biar sehat!” “iya, ma”. Aku itu paling tidak suka yang namanya olahraga, makanya liat aja bentukan badanku ini, lebar. Tetapi, semenjak ketemu dia di lapangan lari aku jadi sering ke lapangan lari tapi gak lari Cuma mau ketemuan sama dia aja. Rendi, itulah nama dia. Pertama kali ketemu pada saat aku sedang ingin membeli minuman karena kecapekan padahal tidak lari.

“Bu, beli minumnya tiga bu..” “iya, neng”. Tiba-tiba ada seorang anak laki-laki seumuran denganku ingin membeli sesuatu “Bu, beli roti ini sama minum ini sama kue yang ini ya, bu. Berapaan bu?” “15rb dek” “ini bu” “makasih dek”. Aku pun yang memulai percakapan ketika dia duduk di sebrang dekat kursiku “Banyak banget belinya,mau di makan sendiri?” “Nggak kok,ini untuk aku ini untuk mama sama ayah ku” “oh kamu sama orang tua mu ke sini?” “iya”. Dengan awal mula itu akhirnya kami pun jadi dekat dan tanpa sadar ternyata rumah kami itu tetanggaan, kemana saja aku ini? Gak kenal tetangga sendiri.

Akhirnya kami sampai ke lapangan lari yang masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah dari dulu, hanya kami yang berubah semakin besar.”Sar, sejak kapan kamu suka olahraga? Ngapain ngajak-ngajak aku kesini?” seru Rendi yang gak peka. Dengan santainya Sarah mengalihkan pembicaraan “Kamu ingat gak Ren? Pertama kali kita ketemu kan disini, dan ternyata kita baru tau kalau kita tetanggaan”. “Kamu gak ngejawab pertanyaanku Sarah, Kebiasaan.. Ya ingat lah, dulu juga kamu yang memulai pembicaraan dan ngajak ketemuan disini terus” “hahaa.. iya, ternyata kamu ingat ya? Aku ngajak kamu kesini cuma ingin mengenang masa lalu aja kok bukan buat lari,tapi kalau kamu mau lari ya silahkan saja”.

Ternyata Rendi memilih untuk duduk sambil mengobrol tentang kita masih kecil. Aku rindu sekali masa-masa itu. Tak terasa, karena habis ujian aku dan Rendi jadi jarang ke sini. Aku sama Rendi memang sering banget dating ke sini hanya untuk duduk di warung pertama kali kita ketemu, karena tidak enak sama ibu-ibu kantinnya jadi kami membeli beberapa makanan dan minuman sambil ngobrol.

***

Tak terasa juga, kami sudah 12 tahun bersahabat. Jika ditanya ‘Bosen gak sih sahabatan sama itu-itu aja?’ aku jawab aja ‘bosen lah’ ‘terus kenapa masih temenan?’ ‘itulah sahabat, walaupun bosen tapi kalau pisah rasanya berat dan gak akan mau pisah, walaupun bosen tapi kalau gak ada dia gak akan seru hidup aku’. Ya,itu menurut aku. Sahabat walaupun Cuma seorang tapi kalau udah nyaman 1 orang ini bisa membuat kita berasa kayak punya banyak banget sahabat.

Aku sayang banget sama Rendi. Sebagai sahabat, dia itu perhatian banget udah melebihi kayak orang pacaran perhatiannya. Maka dari itu, awal kita baru masuk SMA kita sempat di kira pacaran sama temen-temen, soalnya emang kita deket banget istirahat bareng, berangkat sekolah bareng, semuanya bareng.

Hingga tiba hari itu, hari yang gak paling aku tunggu-tunggu. Hari yang aku mau hari itu gak mau aku lewatin. Sahabat aku Rendi bilang ke aku kalau dia dapet beasiswa ke Australia. Sontak aku kaget “Kok aku gak tau?”tanyaku, “Aku mau ngasih tau kamu, tapi aku gak mau ngerusak momen-momen bahagia kita dengan berita ini jadi aku nunggu waktu yang tepat”jawabnya

Dan aku pun memegang lengannya sambil menangis “semoga sukses ya disana, jangan pernah lupain aku”kataku kepadanya. “Aku sayang sama kamu, Sarah. Tapi sayang aku lebih dari sahabat”kata Rendi. Seketika itu aku terdiam, melepas pegangan tanganku di lengannya, “Apa?”jawabku sambil kaget dan menjauh. “iya, Sarah. Sebenarnya,dari dulu kamu pertama kali yang memulai pembicaraan diantara kita pada saat itu aku baru pertama kali juga mendapatkan teman. Tetapi,selangnya waktu,hari berganti hari tumbuhlah perasaan itu bibit itu mulai tumbuh yang selalu kamu siram dengan senyumanmu, tawamu. Aku selalu ingin menjadi cowo yang paling istimewa bagi kamu. Aku selalu berusaha untuk menjadi laki-laki yang kuat seperti yang kamu inginkan. Maafkan aku, Sarah”Rendi pun pergi, berbalik menuju rumahnya. Dan aku pun berbalik menuju rumah ku juga.

***

Hingga, hari itu tiba. Hari keberangkatan Rendi ke Australia. Mungkin ini rasanya kehilangan. Mungkin ini rasanya ditinggalkan orang yang selalu di samping kita dan tiba-tiba dia pergi meninggalkan kita. Rasanya sakit,sedih,pengen teriak,bangga,senang juga karena dia dapet beasiswa ke Australia semua rasa itu bercampur aduk. Aku ikut mengantar Rendi ke bandara, dan Aku seketika melihat dia ingin pergi langsung aku berlari mendekatinya dan langsung kupeluk dia. Dia pun kaget, tetapi setelah itu langsung dia balas pelukanku. Kami berpelukan dan pelukannya terasa hangat tetapi terasa kesediahan mendalam karena kami akan berpisah di sini. Dan kami masih berpelukan sambil menangis dan ketika itu Mamanya Rendi mengingatkan agar cepat karena sebentar lagi pesawat akan segera berangkat.

Aku sebenarnya tidak ingin melepaskan pelukanku, karena aku tau ini saat-saat terakhir kita bersama. Aku tidak mau pisah. Rendi pun melepas pelukannya dan dia menatapku dengan wajah yang belum pernah aku lihat sebelumnya dengan wajah yang sangat hangat sekali “Sarah, hati-hati ya selama aku pergi. Jaga diri baik-baik, jangan pernah telat lagi. Dan jangan kangen samu aku ya,hihii”katanya sambil menghiburku “Pasti kangen lah, kamu juga jaga diri baik-baik jangan lenje harus kuat jadi cowo jangan kayak putrid ayu. Semangat!”kataku.

Dan dia pun mengelap air mataku yang dari tadi tidak henti-hentinya keluar dengan tangannya “udah jangan nangis,cewe kuat gak boleh nangis”Sambil tersenyum dia mengatakan itu dan aku pun membalas senyumannya. Ternyata itu adalah senyuman terakhir yang aku lihat darinya. Senyuman terhangat darinya yang tak akan aku lupakan.

Yang ternyata itu adalah benar-benar senyuman yang benar-benar senyuman terkahir yang aku lihat. Karena seminggu kemudian, Aku mendapat berita bahwa pesawat yang di naiki oleh Rendi tidak di temukan dan mungkin terjadi kecelakaan. Aku benar-benar kali ini tidak bisa menahan tangis, seketika aku langsung terduduk dan nangis sejadi-jadinya. Ternyata itu adalah pertemuan terakhir yang tak pernah aku sangka-sangka. Dan memang penyesalan selalu dating di akhir, bahwa aku belum sempat bilang kalau aku juga sayang sama dia lebih dari sekedar sahabat.

Cinta memang benar-benar datang terlambat. Karena dia sudah tidak ada. Dialah orang pertama yang aku cintai, dia meninggalkan aku benar-benar meninggalkan aku untuk selama-lamanya. Rendi, Apakah kita masih bisa bersama lagi seperti dulu? Berangkat sekolah bareng, bolos bareng? Rendi, kamu yang disana kangen aku nggak? Kamu tahu? Aku disini tidak akan melupakanmu, karena aku mencintaimu,Ren. Bahagia ya di sana. Semoga kita bisa ketemu lagi, bisa bersama lagi. Aku kangen kamu, Rendi.


Hanya Satu Tanyaku, Bisakah Kita Bersama Lagi?
read more

0 komentar:

Posting Komentar


Top